Nelly

Thursday, June 01, 2006

Kemiskinan, Kebudayaan, dan Globalisasi

Membicarakan kemiskinan seperti memulai sebuah debat kusir yang panjang sehingga sangat tidak mungkin menemukan akhir pembicaraan apalagi menemukan solusinya. Ibarat sebuah mata rantai yang sulit diputus maka mencari solusi kemiskinan memerlukan usaha yang sangat keras dan sustainable. Kemiskinan menjadi masalah yang utama bagi negara berkembang karena bagaimanapun ia merupakan sumber permasalahan sosial. Apalagi di negara berkembang terdapat gap yang sangat lebar antara yang kaya yang extrovert dan yang miskin yang marginalized. Kondisi semacam ini menjadi penting untuk dicari akar masalahnya karena akan mendorong sebuah alternatif yang bersifat solutif, apakah kemiskinan disebabkan oleh budaya ataukah ia hadir sebagai akibat masuknya sistem kapitalis yang telah ‘canggih’ bernama globalisasi?
Pendapat Oscar Lewis (dalam Parsudi Suparlan: 1995) tentang kemiskinan yaitu bahwa kemiskinan merupakan budaya yang terjadi karena penderitaan ekonomi yang berlangsung lama. Berdasarkan penelitiannya Lewis menemukan bahwa kemiskinan adalah salah satu subkultur masyarakat yang memiliki kesamaan ciri antaretnik satu dengan yang lain. Kebudayaan kemiskinan cenderung hadir dan berkembang di dalam masyarakat-masyarakat yang memiliki seperangkat kondisi sebagai berikut. Pertama, sistem perekonomian terlalu berorientasi pada keuntungan. Kedua, tingginya tingkat atau angka pengangguran dan setengah dari pengangguran tersebut adalah tenaga tak terampil. Ketiga, rendahnya upah atau gaji yang diperoleh pekerja. Keempat, tidak berhasilnya orang yang berpenghasilan rendah meningkatkan organisasi sosial, ekonomi, dan politik secara sukarela. Kelima, sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral. Keenam, kuatnya nilai-nilai pada kelas berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal atau kesempatan untuk terus meningkat dalam status,dan sikap hidup hemat, serta adanya anggapan bahwa kemiskinan atau rendahnya status ekonomi disebabkan oleh karena ketidaksanggupan pribadi (pada dasarnya sudah rendah kedudukannya).
Kemiskinan menurut Lewis pada akhirnya mendorong terwujudnya sikap meminta-minta dan mengharapkan sedekah yang menjadi ciri-ciri subkultur orang miskin. Namun, hal tersebut sebenarnya merupakah langkah adaptasi yang rasional atas kondisi yang mereka hadapi. Sikap-sikap ini pada akhirnya diturunkan kepada generasi sesudah melalui proses sosialisasi dan menjadi lestari.
Pandangan Lewis tersebut mendapat sanggahan dari Charles A. Valentine (dalam Murbyanto: 1995) yang menyatakan bahwa ciri-ciri subkultur orang miskin bukan sebuah hasil kebudayaan yang turun-temurun tetapi lebih pada adanya situasi yang menekan. Jika situsi yang menekan itu hilang maka ciri-ciri tersebut akan hilang dengan sendirinya. Lebih lanjut menurutnya kondisi menekan itu timbul karena struktur total dari sistem sosial yang ada dalam masyarakat. Maka, Valentine berpendapat bahwa untuk mengubah kondisi mereka untuk lebih baik adalah dengan diadakannya perubahan secara simultan dalam tiga hal yaitu: pertama, penambahan resources seperti kesempatan kerja, pendidikan, informasi, jaringan sosial, dsb. Kedua, perubahan struktur masyarakat. Dan ketiga, perubahan-perubahan di dalam subkultur masyarakat miskin tersebut.
Sementara pandangan lain tentang kemiskinan datang dari Herbert J. Gans (dalam Parsudi Suparlan: 1995) dengan pendekatan interaksionalnya. Bahwa perilaku yang ditampilkan kaum miskin merupakan hasil interaksi antarfaktor kebudayaan yang sudah tertanam di dalam diri orang miskin dan faktor situasi yang menekan. Gans menolak pendapat Lewis, yang menyatakan bahwa orang miskin di semua negara memiliki ciri yang sama tetapi bersifat heterogen. Sebagian orang miskin menjadi miskin karena warisan generasi sebelumnya tetapi ada juga yang miskin secara periodik. Ada pula yang terus bertambah miskin sedangkan sebagian lainnya bertambah baik kehidupannya. Malah, sebagian dari mereka berorientasi ke atas dan melihat adanya kesempatan untuk maju sedangkan sebagian lainnya tidak berorientasi demikian dan tidak menggunakan kesempatan yang tersedia untuk meningkatkan hidup. Jadi, menurut Gans untuk memecahkan masalah kemiskinan harus dipelajari lebih dulu faktor-faktor apa yang menghambat orang miskin menggunakan kesempatan yang tersedia. Untuk itu, diperlukan suatu pemahaman tentang perubahan yang diperlukan dalam sistem ekonomi, struktur kekuasaan, dan norma serta aspirasi kelompok orang kaya yang ikut memicu timbulnya kelompok orang miskin.
Dapat diambil sebuah sintesa tentang kemiskinan yang dikemukakan oleh para ahli diatas maka sebenarnya kemiskinan merupakan kondisi serba terbatasnya akses sumber daya baik itu sumber daya ekonomi, informasi, pengetahuan, kekuasaan, mobilitas sosial, dan sebagainya yang sebagian besar disebabkan oleh struktur sosial dan situasi yang menekan. Untuk menjelaskan faktor-faktor kemiskinan tidak hanya pada satu variabel saja yaitu kebudayaan tetapi juga melibatkan variabel-variabel lain seperti sejarah kolonialisme, struktur sosial (sistem kasta), keadilan atau pemberian kesempatan yang sama, dan sebaginya. Masuknya sistem kapitalis atau globalisasi di negara-negara berkembang memang membawa perubahan yang sangat besar dan radikal di segala aspek kehidupan. Kasus Amerika Latin memperlihatkan bahwa masuknya sistem kapitalis (modernisasi dan globalisasi) telah membawa dampak ketergantungan, keterbelakangan, serta kemiskinan bagi masyarakat di sana. Hal ini menurut Theothonio Dos Santos terjadi karena munculnya industri modern menghilangkan lapangan kerja yang sudah ada sementara lapangan kerja yang diciptakan sedikit jumlahnya. Akibatnya terjadi penyusutan dalam jumlah lapangan kerja sedangkan tenaga kerja yang dipakai di sektor industri mdoern tersebut dibayar murah. Hal lain menurut Dos Santos yang menyebabkan mereka tetap miskin dan terbelakang adalah larinya keuntungan keluar negeri sehingga tidak memberi kesempatan akumulasi modal di dalam negeri untuk menciptakan industri sendiri.
Memang, kebudayaan juga merupakan elemen penting untuk merespon perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia dan menyediakan seperangkat strategi yang diperlukan. Adam Smith mengungkapkan bahwa kehidupan ekonomi tertanam secara mendalam pada kehidupan sosial, dan ia tidak bisa terpisah dari adat, moral, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat di mana proses ekonomi itu terjadi. Singkatnya, ia tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan. Sementara Fukuyama berasumsi bahwa ekonomi tidak pernah tumbuh di dalam ruang vakum. Ekonomi selalu mengakarkan dirinya dalam kehidupan sosial. Karena itu, adalah sebuah kemustahilan memahami ekonomi terpisah dari persoalan masyarakat dan nilai-nilai budaya. Dalam pandangan banyak ekonom kebudayaan menjadi “tas jinjing” atau kategori residual yang digunakan untuk menjelaskan apa pun yang tidak bisa diperhitungkan oleh teori-teori umum tentang perilaku manusia. Kebudayaan, bagaimanapun, bisa memiliki rasionalitas adaptif mendalamnya sendiri, meskipun sulit ditemukan kejelasannya jika dipandang sekilas saja.
Dalam hal ini kebudayaan menyediakan orientasi-orientasi yang terwujud dalam nilai-nilai budaya (values) yang menjadi pedoman hidup anggota masyarakatnya (Kluckhonh dan Strodtbeck: 1973). Jepang adalah negara yang sukses menjalankan proyek modernisasinya. Restorasi Meiji pada tahun 1968 mengubah Jepang yang semula masyarakat feodal dan tertutup menjadi sebuah kekaisaran (monarki kontitusional) dan menjadi kekuatan industri pertama di Asia. Dalam hal ini kebudayaan Jepang berdasarkan kerangka konsep kepribadian Kluckhonh dan Strodtbeck menyediakan values yang berorientasi pada kejayaan dan masa depan, yaitu Mastery-over-Nature dan Future. Dengan orientasi nilai itu maka Jepang tidak pernah takut akan kalah bersaing dengan bangsa Barat karena mereka memiliki kepribadian yang siap bersaing.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home